this is my blog...

Selasa, 16 April 2013

Monitoring Corruption: Evidence from a Field Experiment in Indonesia

Masih sama seperti postingan-postingan yang sebelumnya, postingan kali ini mengenai Monitoring Corruption: Evidence from a Field Experiment in Indonesia.
Makalah ini telah memeriksa hasil percobaan lapangan di Indonesia, makalah ini dirancang untuk menyelidiki pendekatan alternatif untuk memerangi korupsi. Ada dua strategi: pemantauan top down oleh auditor pemerintah dan pemantauan bottom-up melalui partisipasi grassroots dalam proses pemantauan desa.
Bukti menunjukkan bahwa kemungkinan audit eksternal secara substansial mengurangi dana yang hilang dalam proyek. Secara khusus, meningkatkan kemungkinan bahwa sebuah desa telah diaudit oleh instansi audit pemerintah pusat dari baseline 4 persen menjadi 100 persen mengurangi pengeluaran hilang dari 27,7 poin persentase menjadi 19,2 poin persentase. Salah satu alasan bahwa penurunan itu tidak lebih besar adalah bahwa kemungkinan pemeriksaan 100 persen tidak berarti bahwa aparat desa menghadapi kemungkinan 100 persen mendeteksi korupsi dan menjatuhkan hukuman. Bahkan, meskipun auditor menemukan pelanggaran dari beberapa jenis atau 90 persen dari desa-desa lain yang mereka kunjungi, sebagian besar pelanggaran ini adalah prosedural di alam, dan ada sangat sedikit, jika ada, kasus di mana auditor memiliki bukti yang cukup konkret untuk benar-benar mengadili pelanggaran korup. Kemungkinan kecil dari penuntutan dan hukuman resmi menunjukkan bahwa hukuman yang lebih tinggi bersyarat pada pengaduan penuntutan yang efektif untuk kemungkinan audit yang lebih tinggi. Mereka juga menyarankan bahwa memberikan hasil audit kepada publik, yang selanjutnya dapat digunakan dalam membuat pilihan elektoral mereka, mungkin menggunakan pelengkap untuk hukuman formal.
Bukti tentang partisipasi grassroots menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi grassroots dalam pemantauan mengurangi pengeluaran yang hilang hanya menetapkan di bawah satu keadaan tertentu. Pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa mengundang lebih banyak warga desa untuk memantau pertemuan dikurangi hanya pengeluaran tenaga kerja yang hilang, dengan tidak berdampak pada bahan dan, sebagai akibatnya, berdampak kecil secara keseluruhan. Karena sekelompok kecil buruh berdiri untuk memperoleh hasil dari mengurangi korupsi dalam tenaga kerja, sedangkan seluruh desa berdiri untuk mendapatkan dari mengurangi korupsi dalam bahan, hal ini menunjukkan bahwa pemantauan grassroots dapat efektif dalam situasi di mana ada relatif sedikit bebas naik. Misalnya, program yang menyediakan private goods, seperti subsidi pangan, pendidikan, atau perawatan medis, di mana warga negara memiliki kepentingan pribadi dalam memastikan bahwa barang diserahkan dan pencurian diminimalkan, mungkin menjadi kandidat yang tepat untuk pemantauan grassroots. Untuk barang publik di mana insentif untuk memantau jauh lebih lemah, seperti proyek-proyek infrastruktur yang dipelajari di sini, hasil menunjukkan bahwa menggunakan auditor profesional mungkin jauh lebih efektif.
Kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa mengeluarkan bentuk komentar anonim ke desa mengurangi pengeluaran hilang hanya jika bentuk komentar dibagikan melalui sekolah-sekolah di desa, aparat desa benar-benar melewati yang mungkin telah terlibat dalam proyek. Hal ini menunjukkan bahwa harus diperhatikan dalam merancang program pemantauan grassroots untuk memastikan bahwa mereka tidak ditangkap oleh elit lokal.
Hasil dalam makalah ini merupakan hasil dari intervensi jangka pendek. Jika auditor yang mudah disuap, dari waktu ke waktu desa dapat mengembangkan pengulangan hubungan dengan auditor yang dapat membuat menyuap auditor lebih mudah daripada dalam kasus satu-shot diperiksa di sini. Ini mungkin menunjukkan, misalnya, bahwa frekuensi rotasi auditor-atau kemungkinan rendah audit gabungan dengan hukuman yang tinggi-mungkin optimal.
Bahkan untuk satu kali intervensi ini, hasil tertentu akan menjadi jelas hanya dengan waktu. Sebagai contoh, setelah beberapa tahun, maka akan jelas apakah peningkatan pengawasan yang dikenakan oleh audit mempengaruhi yang memilih untuk terlibat dalam manajemen proyek, dan apakah hasil audit negatif mempengaruhi probabilitas pemilihan aparat desa. Mengurangi korupsi juga dapat mengurangi pengeluaran kampanye untuk kantor desa, karena sewa dari mendapatkan posisi ini akan mengalami penurunan. Efisiensi dampak pengurangan korupsi juga akan menjadi lebih jelas dengan waktu karena kita dapat mengamati perubahan dalam beberapa lama berlangsung. Memahami implikasi jangka panjang kebijakan anti korupsi tetap menjadi masalah penting untuk penelitian masa depan.

Senin, 01 April 2013

Commitee Of Sponsoring Organization of Treadway Commision

Next... postingan kali ini saya akan membahas tentang COSO. Pertanyaan yang sangat umum bagi orang yang belum tahu COSO, yaitu: Apa itu COSO? COSO itu singkatan dari Commitee Of Sponsoring Organization of Treadway Commision. Dan untuk pertanyaan selanjutnya, yaitu: Komisi apa itu COSO? COSO itu adalah sebuah komisi yang bergerak pada bidang manajemen organisasi.
Well, saya akan menguraikan tentang COSO, tentunya menurut sepemahaman saya dan bahasa sendiri. Oke, menurut COSO itu ada 5 unsur pengendalian. Apa saja 5 unsur pengendalian itu?
1.       Lingkungan Pengendalian (control environment)
: Semua karyawan, baik itu manajer tingkat atas sampai dengan karyawan biasa harus bisa membangun dan menciptakan suatu kondisi dalam suatu organisasi, yang nantinya akan berpengaruh terhadap efektivitas. Tentu saja, sikap yang ditunjukkan oleh para manajemen maupun karyawan sangat berpengaruh penting terhadap pengendalian yang ada didalam organisasi tersebut. Adapun yang mempengaruhi kondisi dalam lingkungan kerja seperti pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, kepemimpinan manajemen yang kondusif. Contohnya yaitu setiap karyawan yang bekerja di PT. DJARUM Indonesia harus memiliki integritas dan nilai etika sebagai standar perilaku yang sehat, selain itu adanya struktur organisasi perusahaan karena akan mendukung pengendalian intern yang efektif.
2.       Penilaian Risiko (risk assessment)
: Risiko itu merupakan salah satu hal yang dapat menghambat tujuan. Dengan adanya risiko untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi akan sulit dan terhambat. Oleh sebab itu, hal utama yang harus dilakukan apabila ada risiko, yaitu terlebih dahulu mengidentifikasi risiko tersebut, kemudian menganalisis risiko tersebut, dengan adanya analisis risiko kita akan tahu dampak kejadiannya itu seperti apa. Setelah dilakukan analisis langkah selanjutnya yaitu pengelolaan risiko. Contohnya karyawan PT. DJARUM Indonesia seharusnya  memiliki kesadaran bahwa setiap pekerjaan yang akan berjalan, atau kita jalani pasti memiliki risiko, entah itu risiko yang kecil, atau bahwa pekerjaan yang kita lakukan mengandung risiko yang cukup besar, memiliki risiko yang harus dikelola. Pengelolaan risiko tentu saja akan bergantung pada tingkat risiko yang akan dikelola.
3.       Kegiatan Pengendalian (control activities)
: Maksudnya ini adalah suatu organisasi harus memiliki suatu tidakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko. Jadi, organisasi tersebut harus menetapkan dan melaksanakan suatu kebijakan serta prosedur. Contohnya PT. DJARUM Indonesia menetapkan suatu peraturan dalam perusahaan tersebut. Pastinya setiap perusahaan memiliki peraturan yang harus dipatuhi oleh semua karyawan yang terlibat didalam perusahaan tersebut. perlu dipastikan bahwa untuk semua tindakan untuk mengatasi risiko tersebut telah dilaksanakan secara efektif.
4.       Informasi dan Komunikasi (information and communication)
: Dalam suatu organisasi informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang sangat penting seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi. Mengapa demikian? Dengan adanya teknologi informasi pengendalian menjadi lebih efektif dan efesien. Suatu informasi dikatakan berkualitas yaitu informasi tersebut harus andal, uptodate, dapat dipercaya, mutahir. Dengan adanya informasi yang berkualitas tersebut maka komunikasi yang akan dibangun menjadi lebih mudah dan enak. Contohnya dibentuknya suatu bagian khusus yang menangani penyampaian informasi di PT. DJARUM Indonesia.
5.       Pemantauan Pengendalian (monitoring)
: Pemantauan pengendalian atau sering disebut dengan monitoring yaitu suatu tindakan pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan manajemn dan pekerja lain yang ditunjuk dalam pelaksanaan tugas sebagai hasil dari penilaian terhadap kualitas dan efektifitas. Jadi yang melakukan monitoring itu tidak selalu top manajemen, tetapi bisa saja sesama pekerja saling melakukan monitoring. Contohnya yaitu suatu tim yang dibuat khusus untuk melakukan pengawasan intern terhadap PT. DJARUM Indonesia.

Kamis, 21 Maret 2013

Perencanaan Audit


Ini adalah postingan tugas kelompok yang kedua untuk mata kuliah Auditing 2 yang diampu oleh Pak Yanuar.
Untuk anggota kelompoknya masih tetap sama dengan tugas kelompok yang pertama, yaitu
a.      Berliana Wahyu Harjanti C1C010072
b.      Indira Anggun Rahmawati C1C010075
c.      Destiana Setyaningrum C1C010079

 
PERENCANAAN AUDIT

Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari klien, langkah selanjutnya auditor harus merencanakan proses audit yang perlu ditempuh. Terdapat tujuh tahap yang harus di tempuh, yakni :

TAHAP PERTAMA : Memahami Bisnis dan Industri Klien
a.  Pengalaman sebelumnya tentang Entitas dan Industrinya
Dalam audit ulangan, audito dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang kekhususan bisnis klien dengan cara mereview kertas kerja audit yang disimpan dalam arsip permanen. Dengan cara ini auditor dapat mengingat kembali mengenai kebijakan-kebijakan klien, organisasi, dan pengendalan intern.

b.  Diskusi dengan Orang dalam Entitas
Komite audit, direktur, dan personel operasi adalah contoh narasumber yang dapat diharapkanoleh auditor untuk memperoleh informasi tersebut. Komite audit dapat memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan pengendalian intern perusahaan atau bagian dari perusahaan kilen, sistem pengolahan data elektronik yang baru saja diimplementasikan oleh klien, perubahan manajemen perusahaan dan perubahan struktur organisasi perusahaan klien. Dalam tahap perencanaan audit, manajemen dapat dipakai sebagai sumber informasi tentang:
1)  Pengembangan bisnis yang sedang dilakukan oleh manajemen yang akan berdampak terhadapaudit yang akan dilaksanakan oleh auditor
2)  Peraturan baru yang berlaku dalam industri dan peraturan pemerintah terbaru yang berdampak ternis klien.
3)  Bidang audit yang menjadi kepentingan khusus manajemen.
4)  Lingkup dan waktu pelibatan personel klien dalam membantu auditor untuk menyediakan.
Contoh jenis transaksi antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa:
1)  Meminta keterangan kepada manajemen.
2)  Memeriksa daftar pemegang saham unttuk menemukan pemilik utama perusahaan.

c.  Diskusi dengan Personel dari funggsi Audit Intern dan Review terhadap Laporan Auditor Intern
Auditor intern merupakan sumber informasi untuk memahami kekuatan dna kelemahanpengendalian intern yang diterapkan dalam organisasi entitas dalam menjaga keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Review terhadap laporan auditor intern merupakan cara yang efektif untuk memahami pengendalian intern yang diberlakukan dalamorganisasi entitas.

d.  Diskusi dengan Auditor Lain dan dengan Penasihat Hukum atau Penasihat Lain yang telah Memberikan Jasa kepada Entitas atau dalam Industri.
Manajemen entitas membeli berbagai jasa untuk penyelesaian masalah-masalah hukum dan masalah lain seperti sistem informasi, manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen operasi. Auditor dapat berkomunikasi dengan auditor lain yang ditahun sebelumya telah melakukan audit atas laporan keuangan entitas untuk memperoleh pemahaman untuk bisnis entitas. Auditor dapat berkomunikasi dengan penasihat hukum atau penasihat lainuntuk memperoleh informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam bisnisnya.

e.  Publikasi yang Berkaitan dengan Industri
Pengetahuan mengenai industri yang menjadi tempat usaha klien adalah perlu bagi auditor agar ia dapat melaksanakan audit dengan baik. Pengetahuan mengenai industri yang menjadi tempat usaha klien dapat diperoleh denganberbagai cara sebagai berikut:
1)  Meminta keterangan dari klien.
2)  Berlangganan majalah yang dikeluarkan oleh organisasi industri yang bersangkutan.
3)  Aktif berpartisipasi dalam perkumpulan berbagai industri atau program-program latihan yangdiselenggarakan oleh berbagi industri.

f.  Kunjungan Ke Tempat atau Fasilitas Pabrik Entitas
Dari inspeksi ke pabrik dan kantor klien ini auditor dapat memperoleh pengetahuan mengenai tata letak pabrik, proses produksi, produk-produk utama perusahaan, dan penjagaan fisik terhadap aktiva perusahaan. Pengetahuan mengenai fasilitas fisik untuk penerimaan, peenyimpanan, dan pemakaian sediaan barang gudang akan bermanfaat nantinya bagi auditor dalam penilaian terhadap sediaan. Dalam melakukan perjalanan inspeksi ke kantor klien, auditor akan mengetahui pula lokasi berbagai catatan akuntansi, jumlah karyawan klien yang bekerja dikantor, serta pembagian kegiatan akuntansi.

g.  Perundangan dan Peraturan yang secara Signifikan Berdampak terhadap Entitas
Peraturan ekspor, peraturan kredit, peraturan penanaman modal, dan peraturan perpajakan merupakan peraturan perundangan yang secara signifikan berdampak tehadap bisnis perusahaan. Oleh karena itu, dalam perencanaan auditnya, auditor perlu mempertimbangan dampak berbagai peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah yang berdampak terhadap bisnnis klien.

h.  Dokumen yang Dihasilkan oleh Entitas
Contoh berbagai dokumen yang dihasilkan oleh entitas sebagai sumber informasi untuk memahami bisnis entitas:
1)  bahan yang dikirim kepada pemegang saham dan diserahkan kepada badan pengatur
2)  buku-buku promosi
3)  laporan keuangan dan laporan tahunan tahun sebelumnya
4)  anggaran
5)  laporan manajemen intern
6)  laporan keuangan interimg. panduan kebijakan manajemenh. panduan akuntansi dan sistem pengendalian interni. daftar akunj. deskripsi jabatank. rencana pemasaran dan penjualan

TAHAP KEDUA : Melaksanakan Prosedur Analitik 
a.  Konsep Prosedur Analitik 
Prosedur analitik meliputi pertandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat dibandinka dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor.

b.  Tujuan Prosedur Analitik dalam Perencanaan Audit:
1)  Meningkatka pemahaman auditor atas usaha klien dan transaksi atau peristiwa yang terjadisejak tanggal audit terakhir, dan
2)  Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang bersangkutantentang audit.

c.  Prosedur analitik dapat mengungkapkan:
1)  peristiwa atau transaksi yang tidak biasa
2)  perubahan akuntansi
3)  perubahan usaha
4)  fluktuasi acak
5)  salah saji

d.  Tahap-tahap Prosedur Analitik
1)  Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat.
Tipe perhitungan dan perbandingan yang umumnya dibuat oleh auditor terdiri dari:
                     I.     Perbandingan data absolute
                   II.     common-size income statements
                 III.     ratio analysis
                   IV.     trend analysis
Pada tahap perencanaan audit, auditor biasanya melaksanakan prosedur analitik dengan menggunakan data agregasi (gabungan, kumpulan), data perusahaan secara keseluruhan yang didasarkan pada data gabungan sampai dengan bulan dilakukannya prosedur analitik atau padadata proyeksi tahunan.
2)  Mengembangkan Harapan.
Dalam prosedur anallitik, auditor perli mengembangkan harapan sebagai dasar untuk membandingkan perhitungan dan ratio yang dibuat dalam prosedur anallitik.
Contoh sumber informasi yang digunakan dalam  mengembangkan harapan:
                        I.     Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikanperubahan yang diketahui.
                      II.     Hasil yang diantisipasikan, misalnya anggaran termasuk ekstrapolasi interim atau tahunan.
                     III.     Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam satu periode.
                      IV.     Informasi industri tempat usaha kllien, misalnya informasi laba bruto.
                        V.     Hubungan informasi keuangan dengan informasi non keuangan yang relevan.
3)  Melaksanakan Perhitungan/perbandingan.
Auditor mengumpulkan data yang akan dipakai dalam penghitungan perbedaan jumlah absolute atau presentase sekarang dibandingkan dengan jumlah atau presentase tahun yanglalu, perhitungan common-size financial statements, financial ratios, dan trend.
4)  Menganalisis Data dan Mengidentifikasi Perbedaan Signifikan.
Data yang telah dikumpulkan kemudian dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan olehauditor untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan yang terjadi.
5)  Menyelidiki Perbedaan Signifikan yang tidak Terduga dan Mengevaluasi Perbedaan Signifikan.
Perbedaan signifikan yang tidak terduga perlu diselidiki penyebabnya:
                        I.     auditor perlu mempertimbangkankembali metode dan berbagai faktor yang digunakan untuk mengembangkan harapan dan untuk meminta keterangan kepada manajemen
                      II.     kadang-kadang informasi baru akan bermanfaat untuk memperbaiki harapan, dan sebagai akibatnya dapat menghilangkan perbedaan yang terjadi
                     III.     sebelum auditor akan melakukan tindakan berdasarkan respon yang diberikan olehmana jemen.
6)  Menentukan Dampak Hasil Prosedur Analitik terhadap PerencanaanAudit.
Perbedaan signifikan yang tidak terduga biasanya dipandang oleh auditor sebagai petunjuk meningkatnya risiko salah saji dalam akun atau berbagai akun yang bersangkutan denganperhitungan dan perbandingan. Dalam situasi seperti ini auditor merencanakan untuk melaksanakan pengujian yang lebih rinci terhadap akun atau berbagai akun yang bersangkutan.Dengan mengarahkan perhatian auditor ke bidang yang memiliki risiko lebih besar, prosedur analitik dapat bermanfaat dalam pelaksanaan audit yang efektif dan efisien.

TAHAP KETIGA : Mempertimbangkan Tingkat Materialitas Awal
Materialitas awal pada tingkat laporan perlu ditetapkan oleh auditor karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan. Materialitas awal pada tingkat saldo akun ditentukan oleh auditor pada tahap perencanaan audit karena untuk mencapai simpulan tentang kewajaran laporan keuangan sebagai keseluruhan, auditor perlumelakukan verifikasi saldo akun.

TAHAP KEEMPAT : Mempertimbangkan Risiko Bawaan
Auditor merumuskan pendapatnya atas laporan keuangan secara keseluruhan berdasarkan bukti audit yang diperoleh melalui verifikasi asersi yang berkaitan dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi. Auditor berusaha untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir audit, risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah.

TAHAP KELIMA : Mempertimbangkan Berbagai Faktor yang Berpengaruh terhadap Saldo Awal, jika Perikatan Audit Merupakan Audit tahun Pertama.
Auditor harus memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk meyakini bahwa.
A.  Saldo awal tidak mengandung salah saji yang mepunyai dampak material terhadap laporankeuangan tahun berjalan.
B.  Saldo penutup tahun sebelumnya telah ditransfer dengan benar ke tahun yang berjalan atutelah dinyatakan kembali, jika hal itu semestinya dilakukan.
C.  Kebijakan akuntasi yang semestinya telah diterapkan secara konsisten.
Sifat dan lingkup bukti audit yang harus diiperoleh auditor berkenaan dengan saldo awal tergantung pada:
A.  Kebijakan akuntansi yang dipakai oleh entitas yang bersangkutan.
B.  Apakah laporan keuangan entitas tahun sebelumnya telah diaudit, jika demikian, apakahpendapat auditor atas laporan keuangan tersebut berupa pendapat selai pendapat wajar tanpapengecualian.
C.  Sifat akun dan risiko salah sji dalam laporan keuangan tahun berjalan.

TAHAP KEENAM : Mengembangkan strategi Audit awal terhadap Asersi Signifikan
Karena keterkaitan antara bukti audit, materialitas, dan komponen risiko audit, auditor dapatmemilih strategi audit awal dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi. Ada dua strategi audit awal yang dapat dipilih oleh auditor:
A.  primarily substantive approach
B.  lover assessed level of control risk approach

TAHAP KETUJUH : Me-review Informasi yang berhubungan dengan Kewajiban - kewajiban Legal  klien.
Auditor perlu memahami kewajiban-kewajiban legal dalam perjanjian-perjanjian yang menyangkut klien. Informasi tersebut tercantum dalam dokumen-dokumen berikut ini:
A.  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Copy akte pendirian dan anggaran rumah tangga yang diperoleh auditor dalam audit yang pertama disimpan dalam arsip permanen untuk kepentingan audit selanjutnya. Dalam audit berikutnya, auditor harus memperbaharui informasi yang terdapat dalam akte pendirian dananggaran rumah tangga tersebut dengan menambah copy perubahan-perubahan terhadapdokumen-dokumen tersebut dalam arsip permanen.

B.  Perjanjian Persekutuan Perjanjian persekutuan merupakan dokumen yang berisi kontrak diantara para pemilik persekutuan mengenai peraturan-peraturan yang harus diikuti dalam menjalankan perusahaan.Dokumen perjanjian persekutuan:
1.  Nama resmi dan alamat perusahaan.
2.  Nama dan alamat setiap sekutu.
3.  Jumlah, tanggal, dan sifat infestasi yang dilakukan oleh setiap sekutu.
4.  Ratio pembagian laba, gaji sekutu, bunga atas modal sekutu, dan batasan-batasan yangdikenakan terhadap penarikan diri sekutu.
5.  Tugas, tanggung jawab, dan wewenang tiap-tiap sekutu.
6.  Peraturan persekutuan dan pembagian kekayaan persekutuan.
Copy perjanjian persekutuan tersebut disimpan oleh auditor dalam arsip permanen, auditor harus memeriksa apakah ada perubahan-perubahan dalam perjanjian persekutuan tersebut. Copy perubahan terhadap perjanjian persekutuan tersebut harus diperoleh auditor, atau jika tidak terjadi perubahan, auditor harus membuat catatan dalam arsip permanen yang menerangkan bahwa tidak terjadi perubahan dalam perjanjian persekutuan tersebut.

C.  Notulen Rapat Direksi dan Pemegang Saham
Dalam audit yang pertama kali, auditor perlu me-review notulen rapat yang dibuat tahun-tahun sebelumnya. Auditor dapat memperoleh copy semua notulen rapat tersebut darimanajemen perusahaan untuk rapat direksi, dewan komisaris, pemegang saham, komisi-komisiyang dibentuk, baik rapat reguler atau rapat khusus.
Dalam me-review notulen rapat tersebut auditor harus memperhatikan:
1.  Tanggal penyelenggaraan rapat.
2.  Tercapai tidaknya quorum rapat.
3.  Hal-hal yang berkaitan signifikan terhadap laporan keuangan klien atau kegiatan usahanya,atau berpengaruh terhadap pelaksanaan audit.

D.  Kontrak 
Dalam me-review suatu kontrak, biasanya auditor akan memperhatikan unsur-unsur berikut ini:
1.  Nama kontrak yang tepat.
2.  Nama dan alamat pihak-pihak yang menandatangani kontrak
3.  Tanggal berlakunya kontrak secara efektif, jangka waktu kontrak dan jika ada jadwalpelaksanaanya.
4.  Tipe kontak:
                     I.     Harga tetap (fixed price).
                   II.     Kontraktor dibayar sebesar jumlah biaya yang telah dikeluarkan   ditambahcontractors fee
                 III.     Incentive.
5.  Pasal-pasal yang mengatur penyelesaian jika terjadi perselisihan.
6.  Pasal-pasal yang mengatur mengenai audit catatan akuntansi untuk menentukan jumlah yangterutang menurut kontrak.
7.  Dampak umum kontrak tersebut terhadap posisi keuangan dan hasil usaha klien.

E.  Peraturan-peraturan Pemerintah yang Secara langsung Menyangkut Klien.
Auditor harus melakukan konsultasi dengan penasihat hukum klien dan jika perlu denganpenasihat hukum auditor, jika auditor berpendapat bahwa masalah hukum mempunyai dampak terhadap pelaksanaan audit atau memerlukan pengungkapan dalam laporan keuangan auditan.

F.  Arsip Korespondensi.
Prosedur audit arsip koresponden klien biasanya dilakukan sebagai berikut:
1.  Pada waktu membaca notulen rapat, arsip kontrak, atau data lain yang memberikanpetunjuk adanya korespondensi mengenai sesuatu yang dianggap penting oleh auditor, ia harusmeminta klien untuk menyerahkan copy surat-surat yang bersangkutan.
2.  Pada umumnya auditor akan me-review arsip korespondensi klien dengan bank danlembaga kredit yang lain, penasihat hukum, dan instansi pemerintah.